Senin, 16 Januari 2017

Detektif Rohani

Renungan Harian Senin, 16/01/2017 http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20170116

Bacaan: Kisah Para Rasul 17:10-12 Setahun: Kejadian 46-48
Detektif Rohani
Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suc (Kisah Para Rasul 17:11) Kondisi yang kritis dapat mendorong manusia untuk belajar secara lebih baik. Ketika mendapatkan vonis mengidap kanker, misalnya, tiba-tiba orang jadi rajin membaca kolom kesehatan di internet. Ia menjadi teliti dan cermat bagai detektif karena ingin mengetahui secara lebih mendalam persoalan yang sangat penting itu. Demikian pula dengan jemaat di Berea. Rupanya mereka menganggap pesan Paulus perlu dicermati lebih jauh. Mereka menerima firman yang diberitakan Paulus dengan "segala kerelaan hati" (ay. 11). Mereka menyelidikinya "setiap hari, " bukan hanya pada hari Sabat. Bukannya percaya begitu saja, mereka mengecek terlebih dahulu kebenaran perkataan Paulus. Kata yang digunakan, "menyelidiki", menggambarkan keadaan orang yang sedang memeriksa dokumen-dokumen legal yang penting. Mereka memeriksanya dengan saksama. Dan ketika mereka mendapati bahwa pemberitaan Paulus memang benar, tidak sedikit dari mereka yang berbalik dan menjadi percaya. Injil yang dimengerti dengan benar, sesuai dengan Kitab Suci, dapat membawa seseorang menjadi percaya pada Tuhan. Apakah kita mendengarkan firman Tuhan dengan "kerelaan hati" atau malahan dengan "kepongahan hati?" Kita semestinya tidak memandang remeh ajaran firman Tuhan, namun juga tidak sembarang menelan begitu saja ajaran dari para pengkhotbah. Kita, seperti seorang detektif, menyelidiki Kitab Suci, "apakah semuanya itu benar demikian." Apabila memang terbukti benar-marilah kita percaya dan berbalik kepada Tuhan. --VIN/Renungan Harian UNTUK MENGENAL KEBENARAN SECARA AKURAT, KITA PERLU MENYELIDIKINYA SECARA CERMAT.  

Mengabdikan Harta kepada Tuhan

Santapan Harian Senin, 16/01/2017 http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/print/?edisi=20170116

Mengabdikan Harta kepada Tuhan Matius 6:19-24
Cara pandang seseorang terhadap harta akan memengaruhi pola hidupnya: apakah ia mengumpulkan harta di bumi atau di surga. Mengumpulkan harta di surga berarti mengabdi kepada Tuhan. Pada masa kini, simpanan harta tidak lagi hanya berwujud uang dan logam mulia, tetapi juga benda-benda berharga lainnya. Kehidupan modern telah membuat aset tidak bergerak seperti tanah, bangunan, benda seni, aneka koleksi sesuai hobi, dan juga surat-surat berharga menjadi harta kekayaan yang luar biasa bila diuangkan. Biasanya, jika seseorang memiliki uang, maka kedudukan, jabatan, dan kekuasaan sering kali beriring sejalan. Tidak heran apabila korupsi, kolusi, dan nepotisme sangat erat kaitannya dengan keserakahan akan harta. Bahkan, Paulus menyebut akar kejahatan adalah cinta akan uang (1Tim 6:10). Hal ini sangat berbeda dengan harta surgawi yang tidak dapat dinominalkan jumlahnya. Jika harta duniawi dapat rusak, dicuri, dan hilang, maka harta surgawi sifatnya abadi. Baik harta duniawi maupun surgawi, keduanya memiliki kesamaan, yakni: bertolak pada hati manusia (21). Meski hidup di dunia membutuhkan uang, namun kebutuhan hidup sama sekali berbeda dengan mengumpulkan harta. Penatalayanan harta diperlukan agar kita dapat mengumpulkan harta di surga, dan bukan harta duniawi. Sebab mata adalah pelita tubuh yang berkaitan dengan cara pandang seseorang atas harta. Ambisi hati untuk mengumpulkan harta hanya di dunia ini merupakan cara pandang yang salah dan menyesatkan. Tuhan Yesus dengan tegas memperlawankan penggunaan harta yang diabdikan kepada Tuhan dengan Mamon (dewa uang yang adalah simbol keserakahan akan harta kekayaan yang tanpa batas). Mengabdi kepada Tuhan seperti mengikuti asuransi. Premi yang wajib dibayar lebih dari sekadar uang atau harta, melainkan segenap kehidupan yang mengasihi Tuhan. Hanya dengan cara itu kita berbuah dalam kasih dan perbuatan baik kepada sesama. Apakah kita sudah mengumpulkan premi surgawi? [YTP]

Akulah yang Menolong Engkau, demikian Firman Tuhan

Renungan Pagi Senin, 16/01/2017 http://www.bibleforandroid.com/renunganpagi/0116 Senin, 16 Januari 2017

Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN. [Yesaya 41:14]

Pagi ini mari kita dengar Tuhan Yesus berbicara kepada setiap kita: ”Akulah yang menolong engkau.” “Bagi-Ku, Allahmu, menolong engkau merupakan hal kecil. Pikir kembali apa yang sudah Kulakukan. Apa! tidak menolong engkau? Bagaimana mungkin, bukankah Aku sudah membeli engkau dengan darah-Ku. Apa! tidak menolong engkau? Aku telah mati bagimu; dan jika Aku telah mengerjakan hal yang lebih besar, bukankah sudah pasti Aku akan mengerjakan hal yang lebih kecil? Menolong engkau! Itu urusan paling kecil yang akan Aku lakukan bagimu; Aku sudah mengerjakan lebih banyak, dan akan melakukan lebih banyak lagi. Sebelum dunia dijadikan Aku telah memilih engkau [Efesus 1:4]. Aku telah membuat perjanjian dengan engkau. Aku meninggalkan kemuliaan-Ku dan menjadi manusia demi engkau; Aku menyerahkan nyawa-Ku bagimu; dan jika Aku sudah mengerjakan semua ini, Aku pasti akan menolong engkau sekarang. Untuk menolong engkau, Aku memberikanmu apa yang telah Kubeli untukmu. Jika saja engkau butuh pertolongan seribu kali lipat, Aku akan memberikannya kepadamu; apa yang kauminta itu sedikit dibanding apa yang siap Kuberikan. Sebegitu banyak kebutuhanmu, tetapi memberikannya kepadamu itu tidak ada apa-apanya bagi-Ku. ‘Menolong engkau?’ Jangan takut! Andaikata di depan pintu lumbung padimu ada seekor semut yang meminta tolong, memberikan segenggam gandum kepadanya tentunya tidak membuatmu kebobolan; padahal engkau hanya seekor serangga mungil di depan pintu segala kelimpahan-Ku. ‘Akulah yang menolong engkau.’” O jiwaku, tidakkah ini cukup? Engkau membutuhkan kekuatan lebih banyak daripada maha kuasanya Trinitas Yang Esa? Engkau ingin lebih banyak hikmat daripada yang berada di dalam Bapa, lebih banyak kasih daripada yang ditunjukkan Putera, atau lebih banyak kuasa daripada yang terwujud dalam karya Roh Kudus? Bawa kemari tempayanmu yang kosong! Sumur ini pasti akan mengisi penuh tempayan itu. Bergegas, kumpulkanlah kebutuhanmu, dan bawa semuanya kemari—kehampaanmu, kesengsaramu, keperluanmu. Lihat, sungai Allah ini penuh untuk mengisi persediaanmu; apa lagi yang dapat kau ingini? Pergilah, hai jiwaku, dalam kekuatanmu ini. [Hakim-hakim 6:14] Allah Kekal itulah penolongmu!     “Janganlah takut, Aku menyertai engkau, oh, janganlah bimbang!     Aku, Aku adalah Allahmu, dan akan tetap menolongmu.” [1] ____________________ [1] Himne berjudul How Firm A Foundation, Rippon Keen, 1787, teks dari Yesaya 41:10 Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan. Kirim perbaikan

Sabtu, 14 Januari 2017

WASPADAI KEMUNAFIKAN

Santapan Harian Sabtu, 14/01/2017 http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/print/?edisi=20170114 Waspadai Kemunafikan Matius 6:1-18 Kewajiban agama di kalangan orang Yahudi adalah memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa (2, 5, 17). Tuhan Yesus mengajarkan bahwa menjalankan kewajiban agama janganlah seperti orang munafik, yang berharap agar orang lain melihat dan memujinya (1, 2, 5). Melakukan kewajiban agama bersifat pribadi dan tersembunyi dari pengamatan orang lain (4, 6, 18), serta semata-mata untuk Bapa di surga. Bapa tahu memberikan upah kepada orang yang melakukannya (2, 4, 5, 16). Selain mengajar, Yesus juga memberikan nasihat praktis tentang bagaimana seharusnya menjalankan kewajiban agama (3, 6-7, 17). Khusus tentang doa, Yesus mengajarkan doa Bapa kami. Doa ditujukan kepada Bapa di sorga, yang nama-Nya kudus (9). Tujuan utama berdoa adalah agar Kerajaan Allah datang dan kehendak Allah terwujud (10). Dalam doa, kita boleh memohonkan pemenuhan kebutuhan fisik yang esensial secukupnya, setiap hari (11). Kita tidak pernah terlepas dari kesalahan. Itulah sebabnya kita harus meminta ampun atas kesalahan kita dan belajar mengampuni orang yang bersalah kepada kita (12, 14-15). Sebab Tuhan pun sudah mengampuni kesalahan kita. Kita juga boleh memohon agar Tuhan tidak membawa kita pada pencobaan, melainkan melepaskan kita (13). Doa ditutup dengan deklarasi iman bahwa Bapalah yang empunya Kerajaan, kuasa, dan kemuliaan (14). Yesus memperingatkan agar kita tidak menjadi orang Kristen yang munafik. Secara tampilan luar, melakukan sesuatu seolah-olah untuk Tuhan. Padahal dalam hati ingin dilihat dan dipuji orang. Jadi tujuan melakukan sesuatu itu semata-mata untuk diri dan bagi kepentingan diri sendiri. Bukan kebutuhan diri diabaikan dan ditiadakan, melainkan diletakkan pada tempatnya yang tepat dan dalam konteks iman yang tepat. Yakni, belajar berharap kepada anugerah Tuhan tiap-tiap hari. Ketika kita pergi ke gereja atau melakukan berbagai pelayanan, sekali pun itu sesuai dengan talenta kita dan kita lakukan dengan rajin, jagai hati kita dari dosa kemunafikan! Kerjakan itu semata-mata untuk Tuhan! Biarkan Dia sendiri yang memuji kita! [RH] Baca Gali Alkitab 2 Matius 6:1-18 Doa adalah komunkasi antara Allah dan umat-Nya. Orang-orang percaya dilarang menjalani kehidupan doa yang penuh kemunafikan. Sebab, doa bukanlah tontonan publik. Yesus mengajarkan murid-Nya berdoa agar mereka memiliki relasi yang intim dengan Bapa-Nya. Apa saja yang Anda baca? 1. Mengapa kewajiban agama tidak boleh dipertontonkan di depan umum (1)? 2. Bagaimana caranya memberi sedekah dengan benar (2-4)? 3. Apa yang dikatakan tentang doa dan kemunafikan (5)? 4. Sikap doa yang bagaimana diperkenan Allah (6-8)? 5. Kepada siapakah doa itu dipanjatkan (9-10)? 6. Apa yang diminta untuk kebutuhan sehari-hari (11)? 7. Apa yang harus dilakukan tentang kesalahan orang lain (12, 14-15)? 8. Apa yang dikatakan tentang pencobaan (13)? 9. Bagaimana tata cara berpuasa (16-18)? Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda? 1. Mengapa doa sangat penting bagi kehidupan orang percaya? 2. Mengapa hanya doa Bapa Kami dan bukan formula doa yang lain? 3. Apa kesamaan dalam doa dan berpuasa, dan apa tujuannya? Apa respons Anda? 1. Pernahkah Anda berpuasa? Apa tujuan Anda melakukan puasa? 2. Berdoa merupakan kewajiban setiap orang percaya. Apakah Anda berdoa sepenuh hati? Apa yang membuat Anda bertekad melakukan hal itu? Pokok Doa: Ajarilah kami berdoa dengan sepenuh hati agar hati kami dapat memahami kehendak-Mu.

Menangkal dan Meninggalkan Dosa

Santapan Harian Rabu, 11/01/2017
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/print/?edisi=20170111

Menangkal dan Meninggalkan Dosa Matius 5:21-30
Konsekuensi dari dosa pembunuhan yang disengaja dan direncanakan (21; lih. Kel 20:13; Ul 5:17) adalah hukuman mati (bdk. Bil 35:31). Namun Yesus memperluas penerapan hukum ini kepada tiga kasus (22), yakni ketika: 1) seseorang marah, atau 2) berkata "kafir" (ungkapan penghinaan), dan 3) "jahil" (degil/bodoh) kepada saudara seimannya di depan publik, ia layak dihukum. Sebab mereka bisa dan telah merusak relasi serta identitas saudaranya di hadapan orang lain. Untuk menangkal dosa ini, Yesus mengilustrasikan agar seseorang berdamai (lih. Rm 12:18) dengan saudara yang ia lawan (23-24). Berdamai dengan saudara jauh lebih penting daripada mempersembahkan kurban. Seseorang juga harus berdamai dengan orang yang melawannya (25-26). Selama ada kesempatan dan belum terlambat, ia harus segera berdamai. Dosa perzinaan (27; lih. Kel 20:14; Ul 5:17) merupakan dosa seksual yang sangat merusak relasi suami-istri. Yesus tidak membatasi dosa perzinaan hanya kepada orang yang menikah saja (28), tetapi mencakup juga dosa-dosa seksual pada umumnya, yang bersumber dari dalam hati. Untuk menangkal dosa seksual ini, Yesus mengilustrasikan tentang mencungkil dan membuang mata (29), juga memenggal dan membuang tangan (30), jika anggota tubuh itu menyesatkan. Jangan biarkan dosa melalui perkataan dan dosa seksual merusak relasi yang kita miliki. Tangkal dan tanggalkanlah dosa-dosa itu melalui tindakan drastis, yakni memotong dan membuang sumber dosa yang ada dalam hati kita. Kita harus menghadapi dosa secara tepat, serius, dan segera. Jaga setiap perkataan kita agar dosa tidak berkesempatan merusak relasi kita! Jika ternyata kita jatuh, segera selesaikan dengan serius dan tuntas. Berdamailah dengan orang kita lukai atau yang melukai kita! Jagailah mata kita dari hal-hal yang tidak suci! Sebab hal tersebut bisa menggoda, bahkan menyeret kita untuk melakukan dosa-dosa seksual yang bisa menghancurkan relasi dengan pasangan kita. [RH]

Penghargaan yang Seharusnya

Santapan Harian Kamis, 12/01/2017
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/print/?edisi=20170112

Penghargaan yang Seharusnya Matius 5:31-37
Berbicara tentang hukum perceraian (31, lih. Ul 24:1-4), Yesus seolah-olah menyetujui perceraian, pernikahan kembali, atau perzinaan (32). Namun tidak demikian (bandingkan kata "kecuali" (32) dengan Markus 10:4-5; lihat juga Im 20:10). Yesus justru hendak mengarahkan kepada betapa berharga dan seriusnya penyatuan seumur hidup antara pria dan wanita melalui pernikahan (bdk. Kej 2:24; Mat 19:6; Mal 2:14-16). Yesus juga mengajarkan sesuatu yang melampaui hal bersumpah seperti yang orang Yahudi lakukan (33, lih. Im 19:12; Bil 30:2). Mereka bersumpah demi langit (34), bumi, Yerusalem (35), atau kepalanya (36). Yesus melarang pendengarnya bersumpah demi hal-hal yang sebenarnya adalah milik dan dalam kuasa Allah (bdk. Yes 66:1). Ketika seseorang menyatakan sesuatu, ia harus dan hanya menyatakan kebenaran yang bisa dipercayai (37; bdk. 2 Kor 1:18; Gal 1:20). Hal sebaliknya berasal dari Si Jahat. Sebagai anak-anak Allah, kita harus menghargai pernikahan dan kesaksian yang kita ucapkan sebagaimana seharusnya. Dalam pernikahan Kristen, sepasang mempelai tentu membuat ikatan perjanjian. Yakni melalui mengikraran janji nikah di hadapan Allah dan jemaat. Sudah seharusnya kita bisa memegang teguh, memelihara, dan menghargai janji tersebut dengan setia, seumur hidup kita. Pernikahan bukan sekadar sebuah ikatan antara suami-istri. Pernikahan juga menjadi sarana kesaksian bahwa mereka bisa dipercayai; bahwa mereka menyaksikan kebenaran yang mereka wujudkan dalam kehidupan pernikahan mereka. Ini merupakan salah satu cara yang bisa menghindarkan pasangan suami-istri dari perceraian. Hargailah pernikahan kita sebagaimana seharusnya, baik bagi kita yang akan menikah, maupun yang sudah menikah. Penghargaan itu akan terwujud melalui memegang janji nikah kita, memupuk kedekatan yang menyatukan, serta membangun komunikasi yang didasarkan pada kejujuran dan kebenaran. [RH]

Mengalahkan kejahatan

Santapan Harian Jumat, 13/01/2017
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/print/?edisi=20170113

Mengalahkan Kejahatan Matius 5:38-48
Yesus mengajarkan sebuah prinsip yang melampaui hukum pembalasan yang setimpal (38; lihat Ul 21:24; Ul 19:21). Prinsip itu adalah bersedia menerima ketidakadilan dan kerugian (39, bdk. 1 Kor 6:7). Misalnya, tidak melawan orang yang berbuat jahat kepada kita, memberikan pipi kiri ditampar sekalipun pipi kanan sudah ditampar (40); memberikan jubahnya, sekalipun orang lain menginginkan bajunya (41); berjalan dua mil bersama orang yang mamaksanya berjalan satu mil (42). Yesus juga mengajarkan sesuatu yang melampaui hukum yang berlaku di kalangan orang Yahudi, yakni mengasihi sesama, namun membenci musuh (43). Yesus mengajarkan agar kita mengasihi dan mendoakan orang yang menganiaya kita (44). Itulah ciri yang seharusnya dari anak-anak Bapa surgawi. Bapa pun telah berbuat kasih kepada orang yang jahat dan baik, orang yang benar dan tidak benar (45). Kita harus melakukan tindakan lebih dari sekadar mengasihi orang yang mengasihi kita dan hanya memberi salam hanya kepada saudara sendiri saja (46-47). Berusaha mengasihi sesempurna mungkin seperti Bapa surgawi mengasihi (48) adalah standard yang Tuhan inginkan bagi kita. Tindakan jahat kepada orang lain bisa menimbulkan aksi pembalasan dendam. Pembalasan dendam bisa menimbulkan reaksi membalas dendam pula. Rantai pembalasan dendam ini sulit diputuskan kecuali kita rela untuk memutuskannya. Caranya dengan bersedia menanggung ketidakadilan dan kerugian seperti yang Yesus sendiri teladankan. Kemudian reaksi balik ketika seseorang berbuat jahat kepada kita adalah mengasihi dan mendoakan orang tersebut. Siapa tahu orang tersebut kemudian sadar dan bertobat seperti yang Paulus pernah alami. Kalahkan kejahatan dengan tidak membalas dengan berbuat jahat! Percayalah bahwa Tuhan yang akan menjadi hakim yang adil bagi kita (Ibr 10:30)! Tunjukkanlah kasih dan berdoalah bagi orang yang berbuat jahat kepada kita! Dengan cara itu kita telah menjadi saksi yang mempermuliakan Bapa. [RH]