Kamis, 15 Mei 2014

Pemanfaatan Media Audiovisual untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA kelas IV SD Kristen Makale 1


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
            Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan dihampir semua aspek kehidupan manusia, termasuk dalam pendidikan formal. Pendidikan merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS mengemukakan pengertian pendidikan sebagai berikut:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Jadi, pendidikan bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan manusia seutuhnya. Tujuan pendidikan itu sendiri dapat tercapai secara optimal jika proses belajar mengajar direncanakan dengan baik.
              Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan berpengaruh terhadap perkembangan sistem pembelajaran yang berkualitas dan bermutu. Untuk mendapatkan hasil belajar yang berkualitas dan bermutu sangat bergantung kepada beberapa aspek antara lain ialah siswa, guru, mata pelajaran, kurikulum, metode pengajaran, serta sarana dan prasarana yang mendukung. 


Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran karena terlibat langsung dalam upaya mempengaruhi, membina dan mengembangkan kemampuan peserta didiknya. Selain guru, cara atau metode yang digunakan dalam menyampaikan materi pembelajaran juga sangat berpengaruh karena apabila guru dapat menyajikan materi pembelajaran yang sangat menarik maka dapat meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran tersebut dan otomatis akan berpengaruh terhadap hasil belajaranya pula.
              Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran wajib yang dipelajari di SD. IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
              Proses pembelajaran IPA di SD masih terkesan kurang menarik bagi siswa, hal ini dikarenakan cara guru dalam menyampaikan materi masih cenderung bersifat informatif dan pembelajaran masih berpusat pada guru. Siswa masih menganggap bahwa materi IPA merupakan materi yang membosankan dan banyak teorinya. Selain itu, sebagian besar siswa menganggap bahwa mata pelajaran IPA cukup sulit karena harus menghafal berbagai macam teori. Kurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran IPA sangat berpengaruh terhadap rendahnya hasil belajar siswa.
          
Berdasarkan hasil observasi awal dalam bidang studi IPA di SD Kristen Makale 1, hasil belajar siswa kelas IV masih terbilang cukup rendah. Dari 38 orang siswa, yang mendapat nilai di atas KKM 65 hanya 15 orang siswa dan ada 23 orang siswa yang mendapat nilai di bawah KKM yang telah ditetapkan. Rendahnya hasil belajar siswa merupakan salah satu indikator bahwa pembelajaran IPA di SD Kristen Makale 1 belum maksimal. Keadaan tersebut perlu diperhatikan oleh seorang pendidik khususnya guru mata pelajaran IPA agar selalu berusaha untuk menciptakan inovasi dalam proses pembelajaran sebagai solusi untuk meningkatkan daya tarik siswa sehingga hasil belajar siswanya mengalami peningkatan.
              Salah satu upaya meningkatkan kualitas hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan media pembelajaran dalam hal ini media audiovisual ke dalam kegiatan belajar mengajar. Media pembelajaran meliputi perangkat keras yang dapat mengantarkan pesan dan perangkat lunak yang mengandung pesan. Media tidak hanya berupa alat atau bahan, tetapi juga hal-hal lain yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan. Sehingga media pembelajaran disini bisa berperan  sebagai alat bantu yang bisa merangsang siswa untuk aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
              Ada beberapa alasan mengapa media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa antara lain:
1.      Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajarnya.
2.      Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran dengan baik.
3.      Metode mengajar akan lebih bervariasi tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga dalam menyampaikan setiap materi pelajaran.
4.      Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengar uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.
              Dengan memperhatikan kegunaan media pembelajaran yang telah dipaparkan di atas, maka calon peneliti akan mencoba menggunakan media audiovisual dalam penelitian ini. Media audiovisual akan menjadikan penyajian bahan ajar kepada siswa semakin lengkap dan optimal sehingga diharapkan  siswa akan lebih tertarik dan mudah memahami materi pembelajaran yang diajarkan. Selain itu, media audiovisual ini juga tidak hanya digolongkan sebagai pengalaman belajar yang diperoleh dari penginderaan, tetapi sebagai alat teknologis yang bisa memperkaya serta memberikan pengalaman yang bersifat konkrit kepada siswa.
              Pemilihan media audiovisual di dalam penelitian ini adalah dalam bentuk video pembelajaran dengan menggunakan media komputer/laptop dan multimedia projector atau LCD (Liquid Crystal Display) sebagai sarana dalam menyajikan video pembelajaran ini. Dengan media ini diharapkan dapat membantu siswa dalam mempelajari materi secara mandiri. Saat ini media audiovisual untuk membantu proses pembelajaran  khususnya IPA masih kurang dan  belum banyak digunakan. SD Kristen Makale 1 merupakan salah satu sekolah yang belum menggunakan dan memaksimalkan media audiovisual dalam proses pembelajaran. Walaupun di sekolah ini telah tersedia sarana yang mendukung diantaranya yaitu Liquid Crystal Display (LCD) dan laptop.
              Dari permasalahan yang diuraikan di atas, maka calon peneliti ingin melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Pemanfaatan Media Audiovisual untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SD Kristen Makale 1.


B.   Rumusan dan Pemecahan Masalah
1.      Rumusan Masalah
              Dengan memperhatikan latar belakang yang tertulis di atas, maka calon peneliti dapat merumuskan beberapa rumusan masalah yang akan dipecahkan dan dicari kebenarannya setelah melakukan penelitian. Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
aa. Bagaimana proses pembelajaran IPA pada siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 dengan menggunakan media audiovisual ?
b.      b. Apakah setelah menggunakan media audiovisual dalam pembelajaran IPA hasil belajar siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 mengalami peningkatan?
2.      Pemecahan Masalah
              Pemecahan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan media pembelajaran berupa media audiovisual karena penggunaan media ini tidak membuat peserta didik menjadi verbalistik (hanya sebatas teori tanpa didukung dengan data yang konkrit), pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga dapat menumbuhkan minat dan motivasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam bidang studi IPA.
              Dengan menggunakan  media audiovisual ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Kristen Makale 1. Adanya peningkatan hasil belajar IPA dapat dilihat dari nilai tes siswa yang mencapai ketuntasan di atas KKM IPA  65.

B.     Tujuan Penelitian
              Berdasarkan  rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
a.    Untuk mengetahui proses pembelajaran IPA pada siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 dengan menggunakan media audiovisual.
b.   Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA pada siswa kelas IV SD Kristen Makale 1  setelah menggunakan media audiovisual dalam proses pembelajaran.

C.    Manfaat Penelitian
            Hasil penelitian ini dapat memberi manfaat sebagai berikut :
1.      Manfaat Praktis
a.              a.  Bagi Guru
Manfaat penelitian ini bagi guru adalah sebagai bahan masukan bagi guru untuk dapat memilih metode serta memanfaatkan media pembelajaran yang berbasis audiovisual guna peningkatan hasil belajar siswa dan juga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga menjadi kreatif dan inovatif.
b.               b. Bagi Peserta Didik
Dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan minat belajar dan sebagai sarana dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
c.            c. Bagi sekolah
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan pemanfaatan media pembelajaran khususnya media yang berbasis audiovisual untuk meningkatkan mutu dan kualitas hasil belajar siswa.
d.          d.  Bagi Peneliti
Penelitian ini memberikan tambahan pengetahuan dalam penggunaan media audiovisual yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat dipergunakan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa lain untuk penulisan yang relevan.
2.      Manfaat teoritis
Dapat menambah koleksi pustaka dan bahan bacaan bagi mahasiswa.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN


A.    Kajian Pustaka
1.      Pembelajaran IPA di SD
              Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Pembelajaran menurut Dimyanti Mudjiono dalam Sagala (2012: 61) adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat siswa secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Dalam pembelajaran diharapkan dapat menghasilkan sebuah perubahan tidak hanya perubahan tingkah laku tetapi perubahan terhadap mutu hasil belajar siswa.
              Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari ilmu pengetahuan atau Sains yang semula berasal dari bahasa inggris ‘science’ yang artinya ilmu. Kata ‘science’ sendiri berasal dari kata dalam bahasa latin ‘scientia’ yang berarti saya tahu. ‘Science’ terdiri dari social sciences (ilmu pengetahuan sosial) dan natural science (ilmu pengetahuan alam) (Firman dan Widodo, 2007: 28).
              IPA mempelajari alam semesta, benda-benda yang ada dipermukaan bumi, di dalam perut bumi dan diluar angkasa, baik yang dapat diamati indera maupun yang tidak dapat diamati dengan indera. IPA atau ilmu kealaman adalah tentang dunia zat, baik makhluk hidup maupun benda mati yang diamati. Menurut H.W Fowler dalam Trianto (2010:136) mendefinisikan “IPA sebagai pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan dedukasi”.
              Firman dan Widodo (2007:199) mengemukakan bahwa pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Mata pelajaran IPA di SD bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
  1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan,  keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya. 
  2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
  3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
  4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
  5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam.
  6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
  7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP.
              Sedangkan ruang lingkup pembelajaran IPA Di SD meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a.       Makhluk hidup dan proses kehidupan yaitu manusia, hewan dan tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan serta kesehatan.
  1.  Benda atau materi sifat-sifat dan kegunaannya meliputi cair, padat, gas.
  2.  Energi dan perubahannya meliputi gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana.
  3. Bumi dan alam semesta meliputi tanah, bumi , tata surya dan benda langit lainnya.
              Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

2.      Hasil Belajar
              Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup.  Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotorik) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) (Sadiman, 2006:2). Menurut Bruner dalam Nasution (2011:9) proses belajar dapat dibedakan 3 fase yakni:
  1.  Informasi. Dalam setiap pelajaran kita memperoleh informasi yang dapat menambah dan memperluas pengetahuan yang kita miliki
  2. Transformasi. Informasi itu harus dianalisis, diubah atau ditransformasi ke dalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas.
  3. Evaluasi. Menilai pengetahuan yang kita peroleh dan transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejalan lain.
              Dalam proses belajar ketiga fase ini selalu ada. Yang menjadi masalah adalah berapa banyak informasi yang diperoleh agar dapat ditransformasi. Waktu yang digunakan pada tiap fase tidak selalu sama. Hal ini bergantung  pada hasil belajar yang diharapkan, motivasi peserta didik, minat, keinginan untuk mengetahui dan dorongan untuk menemukan sendiri.
              Setiap proses belajar yang dilaksanakan oleh peserta didik akan menghasilkan hasil belajar. Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Menurut Hamalik, 2001:155 dalam Adriyanto (2013:3), menyatakan bahwa hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan ketrampilan. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dapat dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain:
  1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analitis, sintesis, dan penilaian.
  2. Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai.
  3. Ranah psikomotorik meliputi ketrampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular ( menghubungkan, mengamati ).
              Penilaian hasil belajar ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang pengetahuan yang dipahami, keterampilan yang dikuasai, dan sikap yang dimiliki peserta didik sebagai hasil suatu program pembelajaran (Firman dan Widodo, 2007:107). Adapun instrumen yang digunakan dalam mengukur hasil belajar siswa berupa tes dalam bentuk tes  uraian dan tes objektif.

3.      Media Audiovisual
              Kata media berasal dari bahasa latin, yaitu medius  yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman, dkk, 2006: 6).
              Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. The Association for Educational Communications and Technology (AECT) di Amerika membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi (Arsyad, 2006:4).
              Selain pengertian media yang telah diuraikan diatas, masih terdapat pengertian lain yang dikemukakan oleh beberapa ahli dalam Hernawan, dkk, (2007:4) antara lain:
  1. Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramma, 1977).
  2. Sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, slide, dan sebagainya (Briggs, 1977).
  3. Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969).
              Kegiatan pembelajaran itu pada hakikatnya merupakan proses komunikasi. Dalam proses komunikasi, biasanya guru berperan sebagai komunikator yang bertugas menyampaikan pesan sedangkan siswa dalam hal ini bertindak sebagai penerima pesan. Agar pesan atau bahan ajar yang disampaikan guru dapat diterima oleh siswa maka diperlukan wahana penyalur pesan yaitu media pembelajaran (Hernawan, dkk, 2007:4).
              Sadiman (2006:16) mengemukakan secara umum tentang media pendidikan yang mempunyai manfaat sebagai berikut:
  1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka)
  2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera. Misalnya dalam menghadirkan objek-objek yang terlalu besar bisa diganti dengan gambar, objek yang terlalu kecil dibantu dengan proyektor mikro, gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan timelapse atau high-speed photography, objek yang terlalu kompleks dapat disajikan dengan diagram, konsep yang terlalu luas dan  kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu dapat dijelaskan dengan menggunakan gambar atau dalam bentuk video.
  3. Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif peserta didik. Dalam hal ini: 1)      Menimbulkan kegairahan belajar, 2) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataanya, 3)     Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
  4. Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Hal ini akan lebih sulit bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu dengan kemampuannya dalam:
1)      Memberikan perangsang yang sama.
2)      Mempersamakan pengalaman.
3)      Menimbulkan persepsi yang sama.
              Jadi, media pembelajaran sangat penting untuk mendukung terciptanya lingkungan belajar sehingga tercapai tujuan proses belajar yang tercermin dalam hasil belajar peserta didik.
              Media pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan sistem pembelajaran. Dengan demikian pemilihan media pembelajaran menjadi penting agar memiliki kesesuaian dengan tujuan, isi, strategi, dan waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran. Dasar pertimbangan dalam memilih media dapat dikaji dalam dua bagian (Hernawan, dkk 2007:53-55) yaitu:
      1.  Alasan secara teoritis pemilihan media membahas bahwa alasan guru melakukan pemilihan media karena secara teoritik media merupakan salah satu komponen utama dalam pembelajaran selain tujuan, materi, metode, dan evaluasi, maka sudah seharusnya dalam pembelajaran guru menggunakan media. Jadi media merupakan bagian dari sistem pembelajaran yang perlu dipilih kesesuaiannya dengan pembelajaran. Proses pemilihan media secara teoritis dapat merajuk pada Gerlach dan Elly dengan memperhatikan beberapa komponen. Pengkajian sistem pembelajaran yang dikembangkan oleh Gerlach dan Elly tersebut menempatkan komponen media sebagai bagian integral dalam keseluruhan sistem pembelajaran. Dengan memperhatikan kesesuaian dengan tujuan (specification of objective), kesesuaian dengan isi (specification of content), strategi pembelajaran (determination of strategy), dan waktu yang tersedia (allocation of time).
          2.    Alasan praktis pemilihan media sebagai berikut:
1)      Demonstration, dalam hal ini media dapat digunakan sebagai alat untuk mendemonstrasikan sebuah konsep, alat, objek, kegunaan, cara mengoperasikan, dan lain-lain.
2)      Familiarity, penggunaan media pembelajaran memiliki alasan pribadi mengapa ia menggunakan media, yaitu karena sudah terbiasa menggunakan media tersebut, merasa sudah menguasai media tersebut, jika menggunakan media lain belum tentu bisa dan untuk mempelajarinya membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya, sehingga secara terus menerus ia menggunakan media yang sama.
3)      Clarity, untuk lebih memperjelas pesan pembelajaran dan memberikan penjelasan ynang lebih konkrit, sehingga banyak pengguna media memiliki alas an bahwa menggunakan media adalah untukmembuat informasi lebih jelas dan konkrit sesuai kenyataan.
4)      Active learning, media dapat berbuat lebih dari yang bisa dilakukan oleh guru diantaranya adalah siswa harus berperan secara aktif baik secara fisik, mental, dan emosional. Dalam prakteknya guru tidak selamanya membuat siswa aktif hanya dengan ceramah, Tanya jawab, dan lain-lain namun diperlukan media untuk menarik minat atau gairah belajar siswa.
              Profesor Ely dalam Sadiman, dkk (2007:85) mengemukakan:
“Pemilihan media seyogyanya tidak terlepas dari konteksnya bahwa media merupakan komponen dari sistem intruksional secara keseluruhan. Kerena itu, meskipun tujuan dan isinya sudah diketahui, faktor-faktor lain seperti karakteristik siswa, strategi belajar mengajar, organisasi kelompok belajar, alokasi waktu dan sumber, serta prosedur penilaiaannya juga perlu dipertimbangkan”.

              Kriteria umum yang dapat diperhatikan dalam pemilihan media yang dikemukakan oleh Hernawan, dkk (2007:63) yaitu:
           1. Kesesuaian dengan tujuan (instructional goals)
                         2.    Kesesuaian dengan materi pembelajaran (instructional content)
            3. Kesesuaian dengan Karakteristik Pebelajar atau siswa 
            4. Kesesuaian dengan teori
                         5. Kesesuaian dengan gaya belajar siswa
6.                      6. Kesesuaian dengan kondisi lingkunagan, fasilitas pendukung, dan waktu yang tersedia.
              Sebelum menggunakan media pembelajaran, perlu dipahami terlebih dahulu berbagai jenis media yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran beserta karakteristik-karakteristiknya. Adapun jenis dan karakteristik media pembelajaran yang dijelaskan oleh Hernawan, dkk (2007:22-34) sebagai berikut:
      a. Media Visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. Media visual ini terdiri dari :
1)      Media visual yang diproyeksikan adalah media yang menggunakan alat proyeksi (projector) sehingga gambar atau tulisan nampak pada layar. Media ini bisa berbentuk gambar diam (still picture) contohnya, opaque projector dan media proyeksi gerak (motion picture) contohnya, filmstrip.
2)      Media visual yang tidak diproyeksikan, seperti gambar fotografik, grafis, diagram, dan poster
3)      Media tiga dimensi dalam hal ini media realita dan media model. Media realita merupakan alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi memberikan pengalaman secara langsung kepada para siswa. Media model merupakan tiruan dari beberapa objek nyata, seperti objek yang terlalu besar, objek yang terlalu kecil, objek yang terlalu jauh, objek yang terlalu mahal, objek yang jarang ditemukan, atau objek yang terlalu rumit untuk dibawah ke dalam kelas dan sulit dipelajari siswa wujud aslinya.
      b. Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat di dengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan para siswa untuk mempelajari bahan ajar. Jenis media audio terdiri dari program kaset suara, CD audio, dan Program radio. Penggunaan media audio dalam kegiatan pembelajaran pada umumnya untuk melatih keterampilan yang berhubungan dengan aspek-aspek keterampilan mendengarkan.
c.       Media audiovisual
              Media ini merupakan kombinasi audio dan visual atau bisa disebut media pandang-dengar. Media pemebelajaran audiovisual adalah alat bantu yang terdiri dari media visual yang disinkronkan dengan media audio sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah antara pengirim pesan ke penerima pesan yaitu guru dan peserta didik yang dapat ditangkap oleh indera panadang dan dengar.
              Dalam menggunakan media ini akan semakin lengkap dan optimal penyajian bahan ajar kepada para siswa, selain itu dapat juga menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini, guru tidak selalu sebagai penyaji materi (teacher) tetapi karena penyajian materi bisa diganti oleh media audiovisual maka peran guru bisa beralih menjadi fasilitator belajar yaitu memberikan kemudahan bagi siswa untuk belajar (Hernawan, dkk, 2007:34).
              Tujuan menggunakan media audiovisual antara lain:
1)      Meningkatkan hasil belajar siswa.
2)      Menunjukkan contoh cara bersikap, atau berbuat dalam suatu penampilan, khususnya yang menyangkut interaksi manusiawi dan proses pembuatan suatu produk.
3)      Mempengaruhi sikap dan emosi.
4)      Menampilkan contoh keterampilan yang menyangkut gerak.
5)      Menonton bersama-sama untuk membangun kesamaan persepsi dalam proses belajar mengajar.
              Adapun kelebihan dalam menggunakan media audiovisual ini adalah:
1)      Menarik, bahwa pembelajaran yang diserap melalui penglihatan (media visual), sekaligus dengan pendengaran (media audio), dapat mempercepat daya serap peserta didik dalam memahami pelajaran yang disampaikan. salah satu keuntungan penggunaan media audiovisual adalah tampilannya dapat dibuat semenarik mungkin, agar anak tertarik untuk mempelajarinya. Misalnya dengan beberapa animasi kartun yang dikemas dalam cerita yang menarik.
2)      Bisa menampilkan gambar, grafik, diagram, ataupun cerita.
3)      Variatif, karena jenisnya beragam dan guru dapat menggunakan beragam film, tiga dimensi atau empat dimensi, dokumenter dan yang lainnya. Hal ini dapat menciptakan sesuatu yang variatif dan tidak membosankan bagi para siswa.
              Manfaat media audiovisual menurut Sobry 2008: 102-103 dalam Romy, 2012, antara lain:
1)      Dapat menarik perhatian siswa.
2)      Membantu untuk mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran.
3)      Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistis.
4)      Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.
5)      Pembelajaran lebih komunikatif.
6)      Waktu pembelajaran bisa dikondisikan.
7)      Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar.
8)      Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.
9)      Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam.
10)  Meningkatkan kadar keaktifan/keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
              Jenis-jenis media audiovisual menurut Sadiman (2006:68-74) antar lain:
1)      Film, film sebagai media audiovisual adalah film yang bersuara. Sebagai suatu media, film memiliki keunggulan-keunggulan sebagai berikut:
a)      Film merupakan satu denominator belajar yang umum.
b)      Film sangat bagus untuk menerangkan suatu proses.
c)      Film dapat menampilkan kembali masa lalu dan menyajikan kembali kejadian-kejadian sejarah yang lampau.
d)     Film dapat mengembara dengan lincahnya dari satu Negara ke Negara yang lain, horizon menjadi amat lebar, dunia luar dapat dibawa masuk kelas.
e)      Film dapat menyajikan baik teori maupun praktek dari yang bersifat umum ke khusus atau sebaliknya.
f)       Film dapat mendatangkan seorang ahli dan memperdengarkan suaranya di kelas.
g)      Film dapat menggunakan teknik-teknik seperti warna, gerak, lambat, animasi, dan sebagainya untuk menampilkan butir-butir tertentu.
h)      Film memikat perhatian anak.
i)        Film lebih realistis, dapat diulang-ulang, dihentikan, dan sebagainya.
j)        Film bisa mengatasi keterbatasan daya indera kita (penglihatan).
k)      Film dapat merangsang atau memotivasi kegiatan anak-anak.
Sekalipun memiliki banyak keunggulan, film juga memiliki kelemahan yaitu harga/biaya produksi relative mahal, film tidak dapat mencapai semua tujuan pembelajaran, dan penggunaannya perlu ruangan gelap.
2)      Televisi (TV)
Televisi adalah perlengkapan elektronik yang pada dasarnya sama dengan gambar hidup yang meliputi gambar dan suara. Maka televisi sebenarnya sama dengan film, yakni dapat didengar dan dilihat. Media ini berperan sebagai gambar hidup dan juga sebagai radio yang dapat dilihat dan didengar secara bersamaan. Televisi sebagai media pengajaran mengandung beberapa keuntungan antara lain:
a)      TV dapat menerima, menggunakan dan mengubah atau membatasisemua bentuk media yang lain, menyesuaikannya dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai.
b)      TV merupakan medium yang menarik, modern dan selalu siap diterima oleh anak-anak karena mereka mengenalnya sebagai bagian dari kehidupan luar sekolah mereka.
c)      TV dapat memikat perhatian sepenuhnya dari penonton. TV menyajikan informasi visual dan lisan secara simultan.
d)     TV mempunyai kelebihan yaitu immediacy (Objek yang baru saja ditangkap kamera dapat segera dipertontonkan.
e)      Sifatnya langsung dan nyata.
f)       Horizon kelas dapat diperlebar dengan TV. Batas ruang dan waktu dapat diatasi.
g)      Hampir setiap mata pelajaran dapat di TV-kan.
h)      TV dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru dalam hal mengajar.
Beberapa kelemahan dan keterbatasan TV antara lain:
a)      Sifat komunikasinya hanya satu arah
b)      Jika akan dimanfaatkan di kelas jadwal siaran dan jadwal pelajaran sekolah sering kali sulit disesuaikan
c)      Program diluar kontrol guru
d)     Besarnya gambar dilayar relatif kecil dibanding dengan film, sehingga jumlah siswa yang dapat memanfaatkan terbatas.
3)      Video/CD Interaktif
Video sebagai media audiovisual semakin lama semakin popular dalam masyarakat. Pesan yang disajikan bersifat fakta (kejadian/peristiwa penting, berita) maupun fiktif bisa bersifat informatif, edukatif maupun instruksional. Sebagian besar tugas film dapat digantikan oleh video. Tapi tidak berarti bahwa video akan menggantikan kedudukan film. Adapun kelebihan dari video antara lain:
a)      Dapat menarik perhatian untuk periode-periode yang singkat dari rangsangan luar lainnya
b)      Dengan alat perekam pita video sejumlah besar penonton dapat memperoleh informasi dari ahli-ahli/spesialis
c)      Demonstrasi yang sulit bisa dipersiapkan dan direkam sebelumnya, sehingga pada waktu mengajar guru memusatkan perhatian pada penyajiannya
d)     Menghemat waktu dan rekaman dapat diputar berulang-ulang
e)      Kamera TV bisa mengamati lebih dekat objek yang sedang bergerak atau objek yang berbahaya seperti harimau
f)       Keras lemah suara yang ada bisa diatur dan disesuaikan bila akan disisipi komentar yang akan didengar
g)      Gambar proyeksi bisa dibekukan untuk diamati dengan seksama. Guru bisa mengatur dimana dia akan menghentikan gerakan gambar tersebut; kontrol sepenuhnya ada ditangan guru
h)      Ruangan tidak perlu digelapkan waktu penyajiannya
Sedangkan kelemahan dari penggunaan video ini adalah:
a)      Perhatian penonton sulit dikuasai, partisipasi mereka jarang dipraktekkan.
b)      Sifat komunikasinya bersifat satu arah dan harus diimbangi dengan pencarian bentuk umpan balik yang lain.
c)      Kurang mampu menampilkan detail dari objek yang disajikan secara sempurna.
Memerlukan peralatan yang mahal dan kompleks.




B. Kerangka Pikir
              Ilmu Pengetahuan Alam adalah salah satu mata pelajaran yang ada pada tingkat SD. Ditinjau dari kurikulum kelas IV SD, mata pelajaran IPA sudah diajarkan. Pembelajaran IPA ini diharapkan bisa menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Siswa dituntut supaya aktif dalam proses pembelajaran dimana mereka harus bisa mencari informasi dan mengeksplorasi sendiri atau secara berkelompok dan guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator.
              Apabila kita berbicara tentang mata pelajaran IPA di sekolah, beberapa kata yang sering muncul misalnya “materinya sulit”, “sangat membosankan”. Hal ini dikarenakan cara guru dalam mengajar masih cenderung bersifat informatif dan pendekatan pembelajaran masih berpusat pada guru atau dengan kata lain guru lebih banyak menggunakan pendekatan ekspositori dimana metode ceramah menjadi sangat dominan. Selain itu guru kurang atau jarang menggunakan media pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi pasif dan kurang menarik bagi siswa. Kurangnya minat siswa terhadap suatu mata pelajaran khususnya IPA dapat berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa.
              Oleh karena itu, untuk meningkatkan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran IPA, guru dapat menggunakan media pembelajaran yang tepat diantaranya media audiovisual. Dengan menggunakan media audiovisual akan semakin lengkap dan optimal penyajian bahan ajar kepada para siswa sehingga proses pembelajaran akan semakin menarik dan tidak membosankan. Selain itu, media ini dalam batas-batas tertentu dapat juga menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini, guru tidak selalu berperan sebagai penyaji materi tetapi karena penyajian materi bisa diganti oleh media audiovisual maka peran guru bisa beralih menjadi fasilitator belajar yaitu memberikan kemudahan bagi para siswa untuk belajar.
              Melalui penggunaan media audiovisual ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA dan dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan yang abstrak.
              Untuk mengetahui tingkat peningkatan hasil belajar siswa terhadap materi yang diajarkan, maka guru dapat memberikan evaluasi berupa tes secara tertulis yang di berikan pada akhir pelajaran maupun tes secara lisan yang diambil selama proses pembelajaran berlangsung.


C.  Hipotesis Tindakan
              Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Berdasarkan rumusan penelitian, maka peneliti dapat merumuskan hipotesis bahwa Jika guru mampu menggunakan media audiovisual dalam mengajarkan mata pelajaran IPA maka hasil belajar siswa di kelas IV SD Kristen Makale 1 mengalami peningkatan.



BAB III
METODE PENELITIAN


A.    Pendekatan Dan Jenis Penelitian
1.      Pendekatan Penelitian
              Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan kualitatif. Menurut Moleong (2007:6) menyatakan penelitian kualitatif sebagai berikut:
“Penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah”.
              Alasan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini bersifat deskriptif dan naturalistik. Penelitian ini bersifat deskriptif karena hanya mendeskripsikan tentang peningkatan hasil belajar siswa melalui pemanfaatan media audiovisual dan bersifat naturalistik karena penelitian ini terjadi secara alamiah, apa adanya tanpa memanipulasi keadaan dan kondisinya. Penelitian ini menuntut keterlibatan peneliti secara langsung baik pada awal pembelajaran maupun yang terjadi setelah diterapkannya tindakan di lapangan.
2.      Jenis Penelitian
              Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Alasan menggunakan PTK karena penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran,  serta mengatasi masalah pembelajaran.
              Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah peneltian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya (Arikunto, 2012:58). Sedangkan pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menurut Suyanto 1997 (Muslich 2010:9) adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara professional.


B. Fokus Penelitian
              Penelitian ini difokuskan pada dua hal yaitu:
  •    Pemanfaatan media audiovisual. Memberikan gambaran bagaimana meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 pada materi panca indera manusia dengan memanfaatkan media audiovisual.
  •  Hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar IPA yang diperoleh siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 setelah melalui proses pembelajaran yang menggunakan media audiovisual.
 
C. Setting dan Subjek Penelitian
1.      Setting Penelitian
              Penelitian ini dilaksanakan di SD Kristen Makale 1 yang berada di jalan Sudirman No.7 Makale. Tempat tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian dengan beberapa pertimbangan yaitu lokasinya mudah dijangkau karena letaknya dekat dengan tempat tinggal calon peneliti. Di sekolah tersebut belum pernah digunakan sebagai objek penelitian yang sejenis sehingga terhindar dari kemungkinan adanya penelitian ulang.
              Penelitian ini direncanakan mulai bulan Mei sampai dengan Agustus 2014 semester 1 Tahun ajaran 2013/2014.
2.      Subjek Penelitian
              Subjek penelitian tindakan  kelas ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 yang berjumlah 38 orang siswa terdiri dari 20 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki.

D. Rancangan Tindakan
              Model penelitian Tindakan kelas (PTK) yang digunakan dalam penelitian ini adalah model PTK menurut Kemmis dan Mc. Taggart. Model penelitian ini dilaksanakan dalam II siklus. Dimana pada siklus I terdiri dari plan (pengamatan terhadap proses pembelajaran), action (implementasi rancangan pada tahap plan), observing (pengamatan selama tindakan), reflecting (melihat kembali sekaligus solusi pelaksanaan pada siklus berikutnya). Apabila indikator ketercapaian kinerja pada siklus I belum dapat dicapai maka perlu dilakukan siklus II sebagai perbaikan dari proses pembelajaran pada siklus I. Tahapan dalam siklus II terdiri dari revisi plan, action, observing, dan reflecting. Adapun siklusnya dapat dilihat pada gamabar 2:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBoGlZgGKuKvhCY8uNz8NzEOq9pap6mvuSD71KbYgANjBVCwWGQkC6iL8iCZAbPJc1138zHL-4lDxugBNV5tTEHqyPUCHS_6rR53mjv104yxvsq6SN05THKaEQCy123CXVw62qAYFE5VGj/?imgmax=800
Gambar 2: Siklus Penelitian Tindakan Kelas menurut Kemmis dan Mc.
                    Taggart (Wiraatmadja 2009:66)

1.      Siklus I
a.       Perencanaan (Plan)
              Rincian kegiatan pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut:

  •  Guru bersama calon peneliti membuat skenario pembelajaran IPA dengan menggunakan media audiovisual
  • Menentukan hari dan tanggal penelitian
  • Mempersiapkan instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
  •   Persiapan media audiovisual yang akan digunakan dalam proses pembelajaran
  • Membuat persiapan soal tes untuk mengevaluasi hasil belajar siswa setelah selesai siklus I
b.      Pelaksanaan Tindakan (action)
                    Pada tahap ini, guru melaksanakan desain pembelajran Ilmu Pengetahuan Alam yang telah disusun oleh calon peneliti sebelumnya dan telah dikonsultasikan dengan guru pengampu mata pelajaran IPA. Setiap tindakan dalam proses pembelajaran tersebut selalu diikuti dengan kegiatan pemantauan yang dilakukan oleh observer. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dan dalam setiap siklus terdiri dari dua pertemuan.
c.       Pengamatan (Observing)
              Pada tahap ini, proses pengumpulan data dilaksanakan. Proses pengumpalan data ini dengan cara mengamati seluruh tindakan yang dilakukan. Kegiatan yang diamati meliputi sikap siswa dalam pembelajaran, suasana kelas, guru dalam menyampaikan materi, interaksi antara guru dengan siswa, interaksi siswa dengan siswa lainnya, dan hal-hal yang terjadi pada saat proses pembelajaran berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang sudah disusun oleh peneliti.
d.       Refleksi (reflecting)
              Refleksi ini dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan tindakan baik yang bersifat positif maupun negatif. Pelaksanaan refleksi berupa diskusi antara guru Ilmu Pengetahuan Alam dengan calon peneliti. Dari tahapan ini akan diperoleh kesimpulan tentang bagian yang perlu diperbaiki dan bagian yang telah mencapai tujuan penelitian. Dari hasil penarikan kesimpulan tersebut, dapat diketahui apakah peneliti telah mencapai keberhasilan atau tidak. Apabila belum mencapai keberhasilan maka perlu dilakukan siklus II sebagai langkah perbaikan dari proses pembelajaran pada siklus I.
2.      Siklus II
              Tahap-tahap yang dilaksanakan pada pembelajaran siklus II ini mengikuti kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan  pada siklus I. Dalam hal ini, rencana siklus II disusun berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Adapaun kegiatan yang dilakukan pada siklus ini sebagai penyempurnaan terhadap pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan menggunakan media audiovisual pada siklus I.

D. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
              Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1.      Observasi
Observasi adalah proses pengambilan data dalam penelitian dimana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian. Observasi ini dilakukan oleh guru bidang studi IPA kelas IV SD Kristen Makale 1 dan calon peneliti selama proses pembelajaran IPA berlangsung dengan menggunakan media audiovisual. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi.
2.      Interview atau wawancara
Wawancara ini dilakukan kepada guru mata pelajaran IPA dan beberapa siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 yang dipilih untuk memberikan komentar mengenai penggunaan media audiovisual dalam proses pembelajaran. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara
3.      Kajian Dokumentasi
Teknik mencatat dokumentasi sebagai secara untuk menemukan beragam hal sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian. Kegiatan dokumen digunakan untuk memperoleh berbagai arsip atau data berupa kurikulum, RPP, Hasil ulangan dan nilai siswa, dan nama responden penelitian pada siswa kelas IV SD Kristen Makale1. Selain itu, dokumentasi ini dilakukan juga untuk mengetahui letak geografis, sejarah berdirinya, visi dan misi, struktur organisasi, keadaan guru dan siswa, sarana dan prasarana serta keadaan pembelajaran dikelas IV SD Kristen Makale 1. Data yang diperoleh dapat berupa foto dokumentasi.
4.      Tes
Tes dalam penelitian ini dilaksanakan setiap akhir siklus pembelajaran berlangsung. Tes yang diberikan kepada siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 berupa tes dalam bentuk lisan yang diambil selama proses pembelajaran berlangsung dan tes dalam bentuk tertulis berupa tes objektif.

E. Teknik Analisis Data Dan Indikator Keberhasilan
1.      Teknik Analisis Data
              Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, kajian dokumentasi, observasi, tes, dan bahan-bahan lainnya sehingga mudah dipahami. Proses analisis data pada dasarnya melalui beberapa tahap analisis dimulai dengan menyeleksi atau memilih data yang diperlukan. Setelah semua data terseleksi, data tersebut dideskripsikan dan disajikan dalam bentuk tabel. Langkah terakhir adalah membuat kesimpulan.
              Dalam penelitian ini, untuk menganalisis tingkat ketuntasan belajar atau persentase keberhasilan belajar siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya digunakan rumus (Trianto, 2008:171) :
            KB =   x 100%
Keterangan:
KB : Ketuntasan Belajar
T    : Jumlah skor yang diperoleh siswa
Tt    : Jumlah skor total
              Adapun kriteria keberhasilan menurut Purwanto, 2000 :103 dalam Miranda (2012:60) dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 1.1 Kriteria keberhasilan siswa
Persentase
Kriteria
86% - 100%
Sangat baik
76% - 85%
Baik
69% - 75 %
Cukup
55% - 59%
Kurang
<54%
Kurang sekali

2.      Indikator Keberhasilan
              Penelitian tindakan kelas ini dapat dikatakan berhasil apabila hasil belajar siswa yang mendapatkan nilai tes mencapai ketuntasan diatas KKM yaitu 65 dan siswa yang memperoleh nilai  mencapai 80 %.


G. Jadwal Penelitian
              Rincian waktu kegiatan penelitian mulai dari Bulan April sampai dengan bulan Agustus.
Tabel 1.2 Rincian waktu kegiatan penelitian
No.
Kegiatan
April
Mei
Juni

Juli

Agustus
Ket.
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

1
Pengajuan judul





















2
Pengajuan proposal penelitian





















3
Prapenelitian





















4
Seminar





















5
Pelaksanaan penelitian siklus I:
-   Perencanaan
-   Pelaksanaan
-   Observasi
-   refleksi





















6
Pelaksanaan penelitian siklus I:
-   Perencanaan
-   Pelaksanaan
-   Observasi
-   refleksi






















7
Pengolahan data





















8
Penyusunan laporan penjilidan skripsi























 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar