BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi telah membawa perubahan dihampir semua aspek kehidupan manusia,
termasuk dalam pendidikan formal. Pendidikan merupakan sesuatu yang penting
dalam kehidupan manusia. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang
SISDIKNAS mengemukakan pengertian pendidikan sebagai berikut:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Jadi,
pendidikan bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan manusia seutuhnya.
Tujuan pendidikan itu sendiri dapat tercapai secara optimal jika proses belajar
mengajar direncanakan dengan baik.
Pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan berpengaruh terhadap
perkembangan sistem pembelajaran yang berkualitas dan bermutu. Untuk
mendapatkan hasil belajar yang berkualitas dan bermutu sangat bergantung kepada
beberapa aspek antara lain ialah siswa, guru, mata pelajaran, kurikulum, metode
pengajaran, serta sarana dan prasarana yang mendukung.
Guru
mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran
karena terlibat langsung dalam upaya mempengaruhi, membina dan mengembangkan
kemampuan peserta didiknya. Selain guru, cara atau metode yang digunakan dalam
menyampaikan materi pembelajaran juga sangat berpengaruh karena apabila guru
dapat menyajikan materi pembelajaran yang sangat menarik maka dapat
meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran tersebut dan otomatis akan
berpengaruh terhadap hasil belajaranya pula.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
merupakan mata pelajaran wajib yang dipelajari di SD. IPA berkaitan dengan cara
mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya
penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau
prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
Proses pembelajaran IPA di SD
masih terkesan kurang menarik bagi siswa, hal ini dikarenakan cara guru dalam
menyampaikan materi masih cenderung bersifat informatif dan pembelajaran masih
berpusat pada guru. Siswa masih menganggap bahwa materi IPA merupakan materi yang
membosankan dan banyak teorinya. Selain itu, sebagian besar siswa menganggap
bahwa mata pelajaran IPA cukup sulit karena harus menghafal berbagai macam
teori. Kurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran IPA sangat berpengaruh
terhadap rendahnya hasil belajar siswa.
Berdasarkan
hasil observasi awal dalam bidang studi IPA di SD Kristen Makale 1, hasil
belajar siswa kelas IV masih terbilang cukup rendah. Dari 38 orang siswa, yang
mendapat nilai di atas KKM 65 hanya 15 orang siswa dan ada 23 orang siswa yang
mendapat nilai di bawah KKM yang telah ditetapkan. Rendahnya hasil belajar
siswa merupakan salah satu indikator bahwa pembelajaran IPA di SD Kristen
Makale 1 belum maksimal. Keadaan tersebut perlu diperhatikan oleh seorang
pendidik khususnya guru mata pelajaran IPA agar selalu berusaha untuk
menciptakan inovasi dalam proses pembelajaran sebagai solusi untuk meningkatkan
daya tarik siswa sehingga hasil belajar siswanya mengalami peningkatan.
Salah satu upaya meningkatkan
kualitas hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan media pembelajaran dalam
hal ini media audiovisual ke dalam kegiatan belajar mengajar. Media
pembelajaran meliputi perangkat keras yang dapat mengantarkan pesan dan
perangkat lunak yang mengandung pesan. Media tidak hanya berupa alat atau
bahan, tetapi juga hal-hal lain yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan.
Sehingga media pembelajaran disini bisa berperan sebagai alat bantu yang bisa merangsang siswa
untuk aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Ada beberapa alasan mengapa media
pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa antara lain:
1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa
sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajarnya.
2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga
dapat dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran
dengan baik.
3. Metode mengajar akan lebih bervariasi tidak
semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga
siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga dalam menyampaikan setiap
materi pelajaran.
4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab
tidak hanya mendengar uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti
mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.
Dengan memperhatikan kegunaan media
pembelajaran yang telah dipaparkan di atas, maka calon peneliti akan mencoba
menggunakan media audiovisual dalam penelitian ini. Media audiovisual akan
menjadikan penyajian bahan ajar kepada siswa semakin lengkap dan optimal
sehingga diharapkan siswa akan lebih tertarik
dan mudah memahami materi pembelajaran yang diajarkan. Selain itu, media
audiovisual ini juga tidak hanya digolongkan sebagai pengalaman belajar yang
diperoleh dari penginderaan, tetapi sebagai alat teknologis yang bisa
memperkaya serta memberikan pengalaman yang bersifat konkrit kepada siswa.
Pemilihan media audiovisual di
dalam penelitian ini adalah dalam bentuk video pembelajaran dengan menggunakan
media komputer/laptop dan multimedia
projector atau LCD (Liquid Crystal Display)
sebagai sarana dalam menyajikan video pembelajaran ini. Dengan media ini
diharapkan dapat membantu siswa dalam mempelajari materi secara mandiri. Saat
ini media audiovisual untuk membantu proses pembelajaran khususnya IPA masih kurang dan belum banyak digunakan. SD Kristen Makale 1 merupakan
salah satu sekolah yang belum menggunakan dan memaksimalkan media audiovisual dalam
proses pembelajaran. Walaupun di sekolah ini telah tersedia sarana yang
mendukung diantaranya yaitu Liquid
Crystal Display (LCD) dan laptop.
Dari permasalahan yang diuraikan
di atas, maka calon peneliti ingin melakukan penelitian tindakan kelas dengan
judul “Pemanfaatan Media Audiovisual untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa
Kelas IV SD Kristen Makale 1.
B.
Rumusan
dan Pemecahan Masalah
1.
Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang yang tertulis di
atas, maka calon peneliti dapat merumuskan beberapa rumusan masalah yang akan
dipecahkan dan dicari kebenarannya setelah melakukan penelitian. Rumusan
masalah tersebut adalah sebagai berikut:
aa. Bagaimana proses
pembelajaran IPA pada siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 dengan menggunakan
media audiovisual ?
b.
b. Apakah setelah
menggunakan media audiovisual dalam pembelajaran IPA hasil belajar siswa kelas
IV SD Kristen Makale 1 mengalami peningkatan?
2.
Pemecahan Masalah
Pemecahan
masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan media
pembelajaran berupa media audiovisual karena penggunaan media ini tidak membuat
peserta didik menjadi verbalistik (hanya sebatas teori tanpa didukung dengan
data yang konkrit), pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga dapat
menumbuhkan minat dan motivasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil
belajar siswa dalam bidang studi IPA.
Dengan
menggunakan media audiovisual ini diharapkan
dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Kristen Makale 1. Adanya
peningkatan hasil belajar IPA dapat dilihat dari nilai tes siswa yang mencapai
ketuntasan di atas KKM IPA 65.
B.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang
ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
a.
Untuk mengetahui
proses pembelajaran IPA pada siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 dengan
menggunakan media audiovisual.
b.
Untuk mengetahui
peningkatan hasil belajar IPA pada siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 setelah menggunakan media audiovisual dalam
proses pembelajaran.
C.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberi
manfaat sebagai berikut :
1.
Manfaat Praktis
a. a.
Bagi Guru
Manfaat
penelitian ini bagi guru adalah sebagai bahan masukan bagi guru untuk dapat
memilih metode serta memanfaatkan media pembelajaran yang berbasis audiovisual guna
peningkatan hasil belajar siswa dan juga dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran sehingga menjadi kreatif dan inovatif.
b. b. Bagi Peserta
Didik
Dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak
sehingga dapat menimbulkan minat belajar dan sebagai sarana dalam meningkatkan
hasil belajar siswa.
c. c. Bagi sekolah
Dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan yang
berhubungan dengan pemanfaatan media pembelajaran khususnya media yang berbasis
audiovisual untuk meningkatkan mutu dan kualitas hasil belajar siswa.
d.
d. Bagi Peneliti
Penelitian ini
memberikan tambahan pengetahuan dalam penggunaan media audiovisual yang dapat diterapkan
untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat
dipergunakan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa lain untuk penulisan yang
relevan.
2.
Manfaat teoritis
Dapat menambah
koleksi pustaka dan bahan bacaan bagi mahasiswa.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A.
Kajian Pustaka
1.
Pembelajaran IPA di SD
Pembelajaran
merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh guru sebagai
pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid.
Pembelajaran menurut Dimyanti Mudjiono dalam Sagala (2012: 61) adalah kegiatan
guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat siswa secara
aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Dalam pembelajaran
diharapkan dapat menghasilkan sebuah perubahan tidak hanya perubahan tingkah
laku tetapi perubahan terhadap mutu hasil belajar siswa.
Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari ilmu pengetahuan atau Sains yang
semula berasal dari bahasa inggris ‘science’
yang artinya ilmu. Kata ‘science’
sendiri berasal dari kata dalam bahasa latin ‘scientia’ yang berarti saya tahu. ‘Science’ terdiri dari social
sciences (ilmu pengetahuan sosial) dan natural
science (ilmu pengetahuan alam) (Firman dan Widodo, 2007: 28).
IPA
mempelajari alam semesta, benda-benda yang ada dipermukaan bumi, di dalam perut
bumi dan diluar angkasa, baik yang dapat diamati indera maupun yang tidak dapat
diamati dengan indera. IPA atau ilmu kealaman adalah tentang dunia zat, baik
makhluk hidup maupun benda mati yang diamati. Menurut H.W Fowler dalam Trianto
(2010:136) mendefinisikan “IPA sebagai pengetahuan yang sistematis dan
dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan
terutama atas pengamatan dan dedukasi”.
Firman
dan Widodo (2007:199) mengemukakan bahwa pembelajaran IPA di SD
menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan
dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Mata pelajaran IPA di SD bertujuan agar peserta
didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
- Memperoleh
keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan,
keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
- Mengembangkan
pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
- Mengembangkan
rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang
saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
- Mengembangkan
keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan
membuat keputusan.
- Meningkatkan kesadaran
untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan
alam.
- Meningkatkan
kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu
ciptaan Tuhan.
- Memperoleh bekal
pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan
pendidikan ke SMP.
Sedangkan
ruang lingkup pembelajaran IPA Di SD meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a. Makhluk hidup dan proses kehidupan yaitu manusia,
hewan dan tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan serta kesehatan.
- Benda atau materi sifat-sifat dan kegunaannya
meliputi cair, padat, gas.
- Energi dan perubahannya meliputi gaya, bunyi, panas,
magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana.
- Bumi dan alam semesta meliputi tanah, bumi , tata
surya dan benda langit lainnya.
Pembelajaran
IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri
sendiri dan alam sekitar, dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2.
Hasil Belajar
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang
terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah
belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah
laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif),
dan keterampilan (psikomotorik) maupun yang menyangkut nilai dan sikap
(afektif) (Sadiman, 2006:2). Menurut Bruner dalam Nasution (2011:9) proses
belajar dapat dibedakan 3 fase yakni:
- Informasi. Dalam
setiap pelajaran kita memperoleh informasi yang dapat menambah dan memperluas
pengetahuan yang kita miliki
- Transformasi.
Informasi itu harus dianalisis, diubah atau ditransformasi ke dalam bentuk yang
lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas.
- Evaluasi.
Menilai pengetahuan yang kita peroleh dan transformasi itu dapat dimanfaatkan
untuk memahami gejala-gejalan lain.
Dalam
proses belajar ketiga fase ini selalu ada. Yang menjadi masalah adalah berapa
banyak informasi yang diperoleh agar dapat ditransformasi. Waktu yang digunakan
pada tiap fase tidak selalu sama. Hal ini bergantung pada hasil belajar yang diharapkan, motivasi
peserta didik, minat, keinginan untuk mengetahui dan dorongan untuk menemukan
sendiri.
Setiap
proses belajar yang dilaksanakan oleh peserta didik akan menghasilkan hasil
belajar. Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Menurut Hamalik, 2001:155 dalam
Adriyanto (2013:3), menyatakan bahwa hasil belajar tampak sebagai terjadinya
perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam
bentuk perubahan pengetahuan sikap dan ketrampilan. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom
hasil belajar dapat dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain:
- Ranah
kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek
yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analitis, sintesis, dan penilaian.
- Ranah
afektif berkenaan dengan sikap dan nilai.
- Ranah
psikomotorik meliputi ketrampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular
( menghubungkan, mengamati ).
Penilaian
hasil belajar ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang pengetahuan yang
dipahami, keterampilan yang dikuasai, dan sikap yang dimiliki peserta didik
sebagai hasil suatu program pembelajaran (Firman dan Widodo, 2007:107). Adapun instrumen yang digunakan dalam
mengukur hasil belajar siswa berupa tes dalam bentuk tes uraian dan tes objektif.
3. Media
Audiovisual
Kata media berasal dari bahasa latin, yaitu
medius yang merupakan bentuk jamak dari kata
medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim
ke penerima pesan (Sadiman, dkk, 2006: 6).
Banyak
batasan yang diberikan orang tentang media. The Association for Educational Communications and Technology (AECT) di Amerika membatasi media sebagai segala
bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi (Arsyad,
2006:4).
Selain
pengertian media yang telah diuraikan diatas, masih terdapat pengertian lain
yang dikemukakan oleh beberapa ahli dalam Hernawan, dkk, (2007:4) antara lain:
- Teknologi
pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramma,
1977).
- Sarana fisik
untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, slide,
dan sebagainya (Briggs, 1977).
- Sarana
komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk teknologi
perangkat kerasnya (NEA, 1969).
Kegiatan
pembelajaran itu pada hakikatnya merupakan proses komunikasi. Dalam proses
komunikasi, biasanya guru berperan sebagai komunikator yang bertugas
menyampaikan pesan sedangkan siswa dalam hal ini bertindak sebagai penerima
pesan. Agar pesan atau bahan ajar yang disampaikan guru dapat diterima oleh
siswa maka diperlukan wahana penyalur pesan yaitu media pembelajaran (Hernawan,
dkk, 2007:4).
Sadiman
(2006:16) mengemukakan secara umum tentang media pendidikan yang mempunyai
manfaat sebagai berikut:
- Memperjelas
penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata
tertulis atau lisan belaka)
- Mengatasi keterbatasan
ruang, waktu dan daya indera. Misalnya dalam menghadirkan objek-objek yang
terlalu besar bisa diganti dengan gambar, objek yang terlalu kecil dibantu
dengan proyektor mikro, gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat
dibantu dengan timelapse atau high-speed photography, objek yang
terlalu kompleks dapat disajikan dengan diagram, konsep yang terlalu luas dan kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu
dapat dijelaskan dengan menggunakan gambar atau dalam bentuk video.
- Penggunaan media
pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif peserta
didik. Dalam hal ini: 1)
Menimbulkan
kegairahan belajar, 2) Memungkinkan
interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan
kenyataanya, 3)
Memungkinkan
anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
- Dengan sifat yang unik pada tiap siswa
ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan
kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru
banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Hal ini
akan lebih sulit bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda.
Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu dengan kemampuannya
dalam:
1)
Memberikan
perangsang yang sama.
2)
Mempersamakan
pengalaman.
3)
Menimbulkan
persepsi yang sama.
Jadi,
media pembelajaran sangat penting untuk mendukung terciptanya lingkungan
belajar sehingga tercapai tujuan proses belajar yang tercermin dalam hasil
belajar peserta didik.
Media
pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan sistem pembelajaran.
Dengan demikian pemilihan media pembelajaran menjadi penting agar memiliki
kesesuaian dengan tujuan, isi, strategi, dan waktu yang tersedia dalam proses
pembelajaran. Dasar pertimbangan dalam memilih media dapat dikaji dalam dua
bagian (Hernawan, dkk 2007:53-55) yaitu:
1. Alasan secara
teoritis pemilihan media membahas bahwa alasan guru melakukan pemilihan media
karena secara teoritik media merupakan salah satu komponen utama dalam
pembelajaran selain tujuan, materi, metode, dan evaluasi, maka sudah seharusnya
dalam pembelajaran guru menggunakan media. Jadi media merupakan bagian dari
sistem pembelajaran yang perlu dipilih kesesuaiannya dengan pembelajaran.
Proses pemilihan media secara teoritis dapat merajuk pada Gerlach dan Elly
dengan memperhatikan beberapa komponen. Pengkajian sistem pembelajaran yang
dikembangkan oleh Gerlach dan Elly tersebut menempatkan komponen media sebagai
bagian integral dalam keseluruhan sistem pembelajaran. Dengan memperhatikan
kesesuaian dengan tujuan (specification
of objective), kesesuaian dengan isi (specification
of content), strategi pembelajaran (determination
of strategy), dan waktu yang tersedia (allocation
of time).
2.
Alasan praktis
pemilihan media sebagai berikut:
1)
Demonstration,
dalam hal ini media dapat digunakan sebagai alat untuk mendemonstrasikan sebuah
konsep, alat, objek, kegunaan, cara mengoperasikan, dan lain-lain.
2)
Familiarity,
penggunaan media pembelajaran memiliki alasan pribadi mengapa ia menggunakan
media, yaitu karena sudah terbiasa menggunakan media tersebut, merasa sudah
menguasai media tersebut, jika menggunakan media lain belum tentu bisa dan
untuk mempelajarinya membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya, sehingga secara
terus menerus ia menggunakan media yang sama.
3)
Clarity,
untuk lebih memperjelas pesan pembelajaran dan memberikan penjelasan ynang
lebih konkrit, sehingga banyak pengguna media memiliki alas an bahwa
menggunakan media adalah untukmembuat informasi lebih jelas dan konkrit sesuai
kenyataan.
4)
Active learning,
media dapat berbuat lebih dari yang bisa dilakukan oleh guru diantaranya adalah
siswa harus berperan secara aktif baik secara fisik, mental, dan emosional.
Dalam prakteknya guru tidak selamanya membuat siswa aktif hanya dengan ceramah,
Tanya jawab, dan lain-lain namun diperlukan media untuk menarik minat atau
gairah belajar siswa.
Profesor
Ely dalam Sadiman, dkk (2007:85) mengemukakan:
“Pemilihan
media seyogyanya tidak terlepas dari konteksnya bahwa media merupakan komponen
dari sistem intruksional secara keseluruhan. Kerena itu, meskipun tujuan dan
isinya sudah diketahui, faktor-faktor lain seperti karakteristik siswa,
strategi belajar mengajar, organisasi kelompok belajar, alokasi waktu dan
sumber, serta prosedur penilaiaannya juga perlu dipertimbangkan”.
Kriteria
umum yang dapat diperhatikan dalam pemilihan media yang dikemukakan oleh
Hernawan, dkk (2007:63) yaitu:
1. Kesesuaian
dengan tujuan (instructional goals)
2. Kesesuaian dengan
materi pembelajaran (instructional
content)
3. Kesesuaian
dengan Karakteristik Pebelajar atau siswa
4. Kesesuaian
dengan teori
5. Kesesuaian
dengan gaya belajar siswa
6. 6. Kesesuaian
dengan kondisi lingkunagan, fasilitas pendukung, dan waktu yang tersedia.
Sebelum menggunakan media pembelajaran, perlu
dipahami terlebih dahulu berbagai jenis media yang dapat digunakan dalam
kegiatan pembelajaran beserta karakteristik-karakteristiknya. Adapun jenis dan
karakteristik media pembelajaran yang dijelaskan oleh Hernawan, dkk
(2007:22-34) sebagai berikut:
a. Media Visual
adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan.
Media visual ini terdiri dari :
1)
Media visual
yang diproyeksikan adalah media yang menggunakan alat proyeksi (projector) sehingga gambar atau tulisan
nampak pada layar. Media ini bisa berbentuk gambar diam (still picture) contohnya, opaque
projector dan media proyeksi gerak (motion
picture) contohnya, filmstrip.
2)
Media visual
yang tidak diproyeksikan, seperti gambar fotografik, grafis, diagram, dan poster
3)
Media tiga
dimensi dalam hal ini media realita dan media model. Media realita merupakan
alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi memberikan pengalaman
secara langsung kepada para siswa. Media model merupakan tiruan dari beberapa
objek nyata, seperti objek yang terlalu besar, objek yang terlalu kecil, objek
yang terlalu jauh, objek yang terlalu mahal, objek yang jarang ditemukan, atau
objek yang terlalu rumit untuk dibawah ke dalam kelas dan sulit dipelajari
siswa wujud aslinya.
b. Media audio
adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat di dengar)
yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan para siswa
untuk mempelajari bahan ajar. Jenis media audio terdiri dari program kaset
suara, CD audio, dan Program radio.
Penggunaan media audio dalam kegiatan pembelajaran pada umumnya untuk melatih
keterampilan yang berhubungan dengan aspek-aspek keterampilan mendengarkan.
c.
Media
audiovisual
Media
ini merupakan kombinasi audio dan visual atau bisa disebut media
pandang-dengar. Media pemebelajaran audiovisual adalah alat bantu yang terdiri
dari media visual yang disinkronkan dengan media audio sehingga memungkinkan terjadinya
komunikasi dua arah antara pengirim pesan ke penerima pesan yaitu guru dan
peserta didik yang dapat ditangkap oleh indera panadang dan dengar.
Dalam menggunakan media ini akan semakin lengkap dan
optimal penyajian bahan ajar kepada para siswa, selain itu dapat juga
menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini, guru tidak selalu sebagai
penyaji materi (teacher) tetapi
karena penyajian materi bisa diganti oleh media audiovisual maka peran guru
bisa beralih menjadi fasilitator belajar yaitu memberikan kemudahan bagi siswa
untuk belajar (Hernawan, dkk, 2007:34).
Tujuan menggunakan media audiovisual
antara lain:
1) Meningkatkan
hasil belajar siswa.
2) Menunjukkan
contoh cara bersikap, atau berbuat dalam suatu penampilan, khususnya yang
menyangkut interaksi manusiawi dan proses pembuatan suatu produk.
3) Mempengaruhi
sikap dan emosi.
4) Menampilkan
contoh keterampilan yang menyangkut gerak.
5) Menonton
bersama-sama untuk membangun kesamaan persepsi dalam proses belajar mengajar.
Adapun kelebihan dalam menggunakan media audiovisual
ini adalah:
1)
Menarik, bahwa pembelajaran
yang diserap melalui penglihatan (media visual), sekaligus dengan pendengaran
(media audio), dapat mempercepat daya serap peserta didik dalam memahami
pelajaran yang disampaikan. salah satu keuntungan penggunaan media audiovisual
adalah tampilannya dapat dibuat semenarik mungkin, agar anak tertarik untuk
mempelajarinya. Misalnya dengan beberapa animasi kartun yang dikemas dalam
cerita yang menarik.
2)
Bisa menampilkan
gambar, grafik, diagram, ataupun cerita.
3)
Variatif, karena
jenisnya beragam dan guru dapat menggunakan beragam film, tiga dimensi atau
empat dimensi, dokumenter dan yang lainnya. Hal ini dapat menciptakan sesuatu
yang variatif dan tidak membosankan bagi para siswa.
Manfaat media audiovisual menurut Sobry 2008: 102-103 dalam
Romy, 2012, antara lain:
1)
Dapat menarik
perhatian siswa.
2)
Membantu untuk
mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran.
3)
Memperjelas
penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistis.
4)
Mengatasi
keterbatasan ruang dan waktu.
5)
Pembelajaran
lebih komunikatif.
6)
Waktu pembelajaran
bisa dikondisikan.
7)
Menghilangkan
kebosanan siswa dalam belajar.
8)
Meningkatkan
motivasi siswa dalam belajar.
9)
Melayani gaya
belajar siswa yang beraneka ragam.
10) Meningkatkan kadar keaktifan/keterlibatan siswa
dalam kegiatan pembelajaran.
Jenis-jenis media audiovisual menurut Sadiman
(2006:68-74) antar lain:
1)
Film, film
sebagai media audiovisual adalah film yang bersuara. Sebagai suatu media, film
memiliki keunggulan-keunggulan sebagai berikut:
a)
Film merupakan
satu denominator belajar yang umum.
b)
Film sangat
bagus untuk menerangkan suatu proses.
c)
Film dapat
menampilkan kembali masa lalu dan menyajikan kembali kejadian-kejadian sejarah
yang lampau.
d)
Film dapat
mengembara dengan lincahnya dari satu Negara ke Negara yang lain, horizon
menjadi amat lebar, dunia luar dapat dibawa masuk kelas.
e)
Film dapat
menyajikan baik teori maupun praktek dari yang bersifat umum ke khusus atau
sebaliknya.
f)
Film dapat
mendatangkan seorang ahli dan memperdengarkan suaranya di kelas.
g)
Film dapat
menggunakan teknik-teknik seperti warna, gerak, lambat, animasi, dan sebagainya
untuk menampilkan butir-butir tertentu.
h)
Film memikat
perhatian anak.
i)
Film lebih
realistis, dapat diulang-ulang, dihentikan, dan sebagainya.
j)
Film bisa
mengatasi keterbatasan daya indera kita (penglihatan).
k)
Film dapat
merangsang atau memotivasi kegiatan anak-anak.
Sekalipun
memiliki banyak keunggulan, film juga memiliki kelemahan yaitu harga/biaya
produksi relative mahal, film tidak dapat mencapai semua tujuan pembelajaran,
dan penggunaannya perlu ruangan gelap.
2)
Televisi (TV)
Televisi
adalah perlengkapan elektronik yang pada dasarnya sama dengan gambar hidup yang
meliputi gambar dan suara. Maka televisi sebenarnya sama dengan film, yakni
dapat didengar dan dilihat. Media ini berperan sebagai gambar hidup dan juga
sebagai radio yang dapat dilihat dan didengar secara bersamaan. Televisi
sebagai media pengajaran mengandung beberapa keuntungan antara lain:
a)
TV dapat menerima,
menggunakan dan mengubah atau membatasisemua bentuk media yang lain,
menyesuaikannya dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai.
b)
TV merupakan
medium yang menarik, modern dan selalu siap diterima oleh anak-anak karena
mereka mengenalnya sebagai bagian dari kehidupan luar sekolah mereka.
c)
TV dapat memikat
perhatian sepenuhnya dari penonton. TV menyajikan informasi visual dan lisan
secara simultan.
d)
TV mempunyai
kelebihan yaitu immediacy (Objek yang
baru saja ditangkap kamera dapat segera dipertontonkan.
e)
Sifatnya
langsung dan nyata.
f)
Horizon kelas
dapat diperlebar dengan TV. Batas ruang dan waktu dapat diatasi.
g)
Hampir setiap
mata pelajaran dapat di TV-kan.
h)
TV dapat
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru dalam hal mengajar.
Beberapa kelemahan dan keterbatasan TV
antara lain:
a)
Sifat
komunikasinya hanya satu arah
b)
Jika akan
dimanfaatkan di kelas jadwal siaran dan jadwal pelajaran sekolah sering kali
sulit disesuaikan
c)
Program diluar kontrol
guru
d)
Besarnya gambar
dilayar relatif kecil dibanding dengan film, sehingga jumlah siswa yang dapat
memanfaatkan terbatas.
3)
Video/CD
Interaktif
Video
sebagai media audiovisual semakin lama semakin popular dalam masyarakat. Pesan
yang disajikan bersifat fakta (kejadian/peristiwa penting, berita) maupun fiktif
bisa bersifat informatif, edukatif maupun instruksional. Sebagian besar tugas
film dapat digantikan oleh video. Tapi tidak berarti bahwa video akan
menggantikan kedudukan film. Adapun kelebihan dari video antara lain:
a)
Dapat menarik
perhatian untuk periode-periode yang singkat dari rangsangan luar lainnya
b)
Dengan alat
perekam pita video sejumlah besar penonton dapat memperoleh informasi dari
ahli-ahli/spesialis
c)
Demonstrasi yang
sulit bisa dipersiapkan dan direkam sebelumnya, sehingga pada waktu mengajar
guru memusatkan perhatian pada penyajiannya
d)
Menghemat waktu
dan rekaman dapat diputar berulang-ulang
e)
Kamera TV bisa
mengamati lebih dekat objek yang sedang bergerak atau objek yang berbahaya
seperti harimau
f)
Keras lemah
suara yang ada bisa diatur dan disesuaikan bila akan disisipi komentar yang
akan didengar
g)
Gambar proyeksi
bisa dibekukan untuk diamati dengan seksama. Guru bisa mengatur dimana dia akan
menghentikan gerakan gambar tersebut; kontrol sepenuhnya ada ditangan guru
h)
Ruangan tidak
perlu digelapkan waktu penyajiannya
Sedangkan kelemahan dari penggunaan video ini
adalah:
a)
Perhatian
penonton sulit dikuasai, partisipasi mereka jarang dipraktekkan.
b)
Sifat
komunikasinya bersifat satu arah dan harus diimbangi dengan pencarian bentuk
umpan balik yang lain.
c)
Kurang mampu
menampilkan detail dari objek yang disajikan secara sempurna.
Memerlukan peralatan yang mahal dan kompleks.
B. Kerangka Pikir
Ilmu
Pengetahuan Alam adalah salah satu mata pelajaran yang ada pada tingkat SD. Ditinjau
dari kurikulum kelas IV SD, mata pelajaran IPA sudah diajarkan. Pembelajaran
IPA ini diharapkan bisa menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri
sendiri dan alam sekitar. Siswa dituntut supaya aktif dalam proses pembelajaran
dimana mereka harus bisa mencari informasi dan mengeksplorasi sendiri atau
secara berkelompok dan guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator.
Apabila
kita berbicara tentang mata pelajaran IPA di sekolah, beberapa kata yang sering
muncul misalnya “materinya sulit”, “sangat membosankan”. Hal ini dikarenakan
cara guru dalam mengajar masih cenderung bersifat informatif dan pendekatan
pembelajaran masih berpusat pada guru atau dengan kata lain guru lebih banyak
menggunakan pendekatan ekspositori dimana metode ceramah menjadi sangat dominan.
Selain itu guru kurang atau jarang menggunakan media pembelajaran sehingga
proses pembelajaran menjadi pasif dan kurang menarik bagi siswa. Kurangnya
minat siswa terhadap suatu mata pelajaran khususnya IPA dapat berdampak pada
rendahnya hasil belajar siswa.
Oleh karena itu, untuk
meningkatkan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran IPA, guru dapat
menggunakan media pembelajaran yang tepat diantaranya media audiovisual. Dengan
menggunakan media audiovisual akan semakin lengkap dan optimal penyajian bahan
ajar kepada para siswa sehingga proses pembelajaran akan semakin menarik dan
tidak membosankan. Selain itu, media ini dalam batas-batas tertentu dapat juga
menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini, guru tidak selalu berperan
sebagai penyaji materi tetapi karena penyajian materi bisa diganti oleh media
audiovisual maka peran guru bisa beralih menjadi fasilitator belajar yaitu
memberikan kemudahan bagi para siswa untuk belajar.
Melalui penggunaan media
audiovisual ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran IPA dan dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari yang konkrit
sampai dengan yang abstrak.
Untuk mengetahui tingkat
peningkatan hasil belajar siswa terhadap materi yang diajarkan, maka guru dapat
memberikan evaluasi berupa tes secara tertulis yang di berikan pada akhir
pelajaran maupun tes secara lisan yang diambil selama proses pembelajaran
berlangsung.
C.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis
adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang masih bersifat praduga
karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Berdasarkan rumusan penelitian,
maka peneliti dapat merumuskan hipotesis bahwa Jika guru mampu menggunakan
media audiovisual dalam mengajarkan mata pelajaran IPA maka hasil belajar siswa
di kelas IV SD Kristen Makale 1 mengalami peningkatan.
BAB III
METODE
PENELITIAN
A.
Pendekatan Dan Jenis Penelitian
1.
Pendekatan Penelitian
Dalam
penelitian ini, digunakan pendekatan kualitatif. Menurut Moleong (2007:6)
menyatakan penelitian kualitatif sebagai berikut:
“Penelitian yang bermaksud untuk
memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya
perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik, dan dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang
alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah”.
Alasan
peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini bersifat
deskriptif dan naturalistik. Penelitian ini bersifat deskriptif karena hanya
mendeskripsikan tentang peningkatan hasil belajar siswa melalui pemanfaatan
media audiovisual dan bersifat naturalistik karena penelitian ini terjadi
secara alamiah, apa adanya tanpa memanipulasi keadaan dan kondisinya.
Penelitian ini menuntut keterlibatan peneliti secara langsung baik pada awal
pembelajaran maupun yang terjadi setelah diterapkannya tindakan di lapangan.
2.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Alasan menggunakan PTK karena penelitian ini bertujuan
untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, serta mengatasi masalah pembelajaran.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
adalah peneltian tindakan (action
research) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik
pembelajaran di kelasnya (Arikunto, 2012:58). Sedangkan pengertian Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) menurut Suyanto 1997 (Muslich 2010:9) adalah suatu bentuk
penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu
agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas
secara professional.
B. Fokus Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada dua hal yaitu:
- Pemanfaatan
media audiovisual. Memberikan gambaran bagaimana meningkatkan hasil belajar IPA
siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 pada materi panca indera manusia dengan memanfaatkan
media audiovisual.
- Hasil belajar
siswa. Peningkatan hasil belajar IPA yang diperoleh siswa kelas IV SD Kristen
Makale 1 setelah melalui proses pembelajaran yang menggunakan media
audiovisual.
C. Setting dan Subjek Penelitian
1.
Setting Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di SD Kristen Makale 1 yang berada di jalan Sudirman No.7 Makale.
Tempat tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian dengan beberapa pertimbangan
yaitu lokasinya mudah dijangkau karena letaknya dekat dengan tempat tinggal calon
peneliti. Di sekolah tersebut belum pernah digunakan sebagai objek penelitian
yang sejenis sehingga terhindar dari kemungkinan adanya penelitian ulang.
Penelitian
ini direncanakan mulai bulan Mei sampai dengan Agustus 2014 semester 1 Tahun
ajaran 2013/2014.
2.
Subjek Penelitian
Subjek
penelitian tindakan kelas ini adalah
seluruh siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 yang berjumlah 38 orang siswa
terdiri dari 20 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki.
D. Rancangan Tindakan
Model penelitian Tindakan kelas
(PTK) yang digunakan dalam penelitian ini adalah model PTK menurut Kemmis dan
Mc. Taggart. Model penelitian ini dilaksanakan dalam II siklus. Dimana pada
siklus I terdiri dari plan
(pengamatan terhadap proses pembelajaran), action
(implementasi rancangan pada tahap plan), observing
(pengamatan selama tindakan), reflecting
(melihat kembali sekaligus solusi pelaksanaan pada siklus berikutnya). Apabila
indikator ketercapaian kinerja pada siklus I belum dapat dicapai maka perlu
dilakukan siklus II sebagai perbaikan dari proses pembelajaran pada siklus I.
Tahapan dalam siklus II terdiri dari revisi plan,
action, observing, dan reflecting.
Adapun siklusnya dapat dilihat pada gamabar 2:
Gambar 2: Siklus Penelitian Tindakan Kelas menurut
Kemmis dan Mc.
Taggart
(Wiraatmadja 2009:66)
1. Siklus I
a.
Perencanaan (Plan)
Rincian
kegiatan pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut:
- Guru bersama
calon peneliti membuat skenario pembelajaran IPA dengan menggunakan media
audiovisual
- Menentukan hari
dan tanggal penelitian
- Mempersiapkan
instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran seperti Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP)
-
Persiapan media audiovisual
yang akan digunakan dalam proses pembelajaran
- Membuat
persiapan soal tes untuk mengevaluasi hasil belajar siswa setelah selesai
siklus I
b. Pelaksanaan Tindakan (action)
Pada
tahap ini, guru melaksanakan desain pembelajran Ilmu Pengetahuan Alam yang
telah disusun oleh calon peneliti sebelumnya dan telah dikonsultasikan dengan
guru pengampu mata pelajaran IPA. Setiap tindakan dalam proses pembelajaran
tersebut selalu diikuti dengan kegiatan pemantauan yang dilakukan oleh
observer. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dan dalam setiap siklus
terdiri dari dua pertemuan.
c. Pengamatan (Observing)
Pada
tahap ini, proses pengumpulan data dilaksanakan. Proses pengumpalan data ini
dengan cara mengamati seluruh tindakan yang dilakukan. Kegiatan yang diamati
meliputi sikap siswa dalam pembelajaran, suasana kelas, guru dalam menyampaikan
materi, interaksi antara guru dengan siswa, interaksi siswa dengan siswa
lainnya, dan hal-hal yang terjadi pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang sudah
disusun oleh peneliti.
d. Refleksi (reflecting)
Refleksi
ini dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan tindakan baik yang bersifat positif
maupun negatif. Pelaksanaan refleksi berupa diskusi antara guru Ilmu
Pengetahuan Alam dengan calon peneliti. Dari tahapan ini akan diperoleh
kesimpulan tentang bagian yang perlu diperbaiki dan bagian yang telah mencapai
tujuan penelitian. Dari hasil penarikan kesimpulan tersebut, dapat diketahui
apakah peneliti telah mencapai keberhasilan atau tidak. Apabila belum mencapai
keberhasilan maka perlu dilakukan siklus II sebagai langkah perbaikan dari
proses pembelajaran pada siklus I.
2. Siklus II
Tahap-tahap yang dilaksanakan pada
pembelajaran siklus II ini mengikuti kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I. Dalam hal ini, rencana siklus
II disusun berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Adapaun kegiatan yang
dilakukan pada siklus ini sebagai penyempurnaan terhadap pelaksanaan
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan menggunakan media audiovisual pada
siklus I.
D. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah proses pengambilan data dalam
penelitian dimana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian. Observasi
ini dilakukan oleh guru bidang studi IPA kelas IV SD Kristen Makale 1 dan calon
peneliti selama proses pembelajaran IPA berlangsung dengan menggunakan media
audiovisual. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi.
2. Interview atau wawancara
Wawancara ini dilakukan kepada guru mata pelajaran
IPA dan beberapa siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 yang dipilih untuk
memberikan komentar mengenai penggunaan media audiovisual dalam proses
pembelajaran. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara
3. Kajian Dokumentasi
Teknik mencatat dokumentasi sebagai secara untuk
menemukan beragam hal sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian. Kegiatan
dokumen digunakan untuk memperoleh berbagai arsip atau data berupa kurikulum,
RPP, Hasil ulangan dan nilai siswa, dan nama responden penelitian pada siswa kelas
IV SD Kristen Makale1. Selain itu, dokumentasi ini dilakukan juga untuk
mengetahui letak geografis, sejarah berdirinya, visi dan misi, struktur
organisasi, keadaan guru dan siswa, sarana dan prasarana serta keadaan
pembelajaran dikelas IV SD Kristen Makale 1. Data yang diperoleh dapat berupa
foto dokumentasi.
4. Tes
Tes
dalam penelitian ini dilaksanakan setiap akhir siklus pembelajaran berlangsung.
Tes yang diberikan kepada siswa kelas IV SD Kristen Makale 1 berupa tes dalam
bentuk lisan yang diambil selama proses pembelajaran berlangsung dan tes dalam
bentuk tertulis berupa tes objektif.
E. Teknik Analisis Data Dan Indikator Keberhasilan
1.
Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun
secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, kajian dokumentasi,
observasi, tes, dan bahan-bahan lainnya sehingga mudah dipahami. Proses
analisis data pada dasarnya melalui beberapa tahap analisis dimulai
dengan menyeleksi atau memilih data yang diperlukan. Setelah semua data
terseleksi, data tersebut dideskripsikan dan disajikan dalam bentuk tabel. Langkah
terakhir adalah membuat kesimpulan.
Dalam penelitian ini, untuk menganalisis tingkat ketuntasan
belajar atau persentase keberhasilan belajar siswa setelah proses belajar
mengajar setiap putarannya digunakan rumus (Trianto, 2008:171) :
KB =
x 100%
Keterangan:
KB
: Ketuntasan Belajar
T : Jumlah skor yang diperoleh siswa
Tt : Jumlah skor total
Adapun kriteria keberhasilan
menurut Purwanto, 2000 :103 dalam Miranda (2012:60) dapat dilihat dalam tabel
berikut:
Tabel 1.1 Kriteria keberhasilan
siswa
|
Persentase
|
Kriteria
|
|
86% - 100%
|
Sangat baik
|
|
76% - 85%
|
Baik
|
|
69% - 75 %
|
Cukup
|
|
55% - 59%
|
Kurang
|
|
<54%
|
Kurang
sekali
|
2.
Indikator Keberhasilan
Penelitian tindakan kelas ini dapat dikatakan
berhasil apabila hasil belajar siswa yang mendapatkan nilai tes mencapai
ketuntasan diatas KKM yaitu 65 dan siswa yang memperoleh nilai
mencapai 80 %.
G. Jadwal Penelitian
Rincian waktu kegiatan penelitian mulai dari Bulan
April sampai dengan bulan Agustus.
Tabel 1.2 Rincian waktu kegiatan penelitian
|
No.
|
Kegiatan
|
April
|
Mei
|
Juni
|
Juli
|
Agustus
|
Ket.
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
1
|
Pengajuan judul
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Pengajuan proposal penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Prapenelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Seminar
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Pelaksanaan penelitian siklus
I:
- Perencanaan
- Pelaksanaan
- Observasi
- refleksi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Pelaksanaan penelitian siklus
I:
- Perencanaan
- Pelaksanaan
- Observasi
- refleksi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Pengolahan data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Penyusunan laporan penjilidan
skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|